EKONOMI KREATIF

73 Persen Masyarakat Indonesia Dapatkan Informasi Melalui Media Sosial

FLORESGENUINE.com-  Mengutip katadata.co.id, sebanyak 73 persen masyarakat Indonesia menjadikan media social untuk mendapatkan informasi. Data juga menyebutkan, sebanyak 353,8 juta koneksi mobile, 212,9 juta pengguna internet dan 167 juta akun media sosial aktif.

Ketua Kelompok Kerja Media Digital Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Apriyanti pada acara temu media,Minggu (10/12/20230 menjelaskan, mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) No. 69 Tahun 2019 tugas Kemenparekraf antara lain, menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kepariwisataan dan di bidang ekonomi kreatif serta membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Sedangkan berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) No.1 Tahun 2021, tugas Biro Komunikasi yakni melaksanakan pembinaan dan pemberian dukungan informasi publik, hubungan masyarakat, pengelolaan media digital  dan produksi konten terkait informasi produk kebijakan dan program di lingkungan kementerian/badan serta pelaksanaan urusan administrasi biro.

BACA JUGA:  Sampah Jadi Ancaman Ekosistem Bahari dan Pariwisata Manggarai Barat

Jika mengacu pada data penggunaan internet dan media social tersebut, menurut Apriyani, kreativitas adalah solusi dengan memanfaatkan media massa dan media social sebagai medium penyebaran informasi, promosi dan pendidikan. Kemenparekraf/Baparekraf  sendiri telah mengelola beberapa media massa berbasis internet.

Namun, yang dibutuhkan dan yang perlu dilakukan dalam pengelolaan media social yakni anggaran, perbanyak riset SDM kreatif, memaksimalkan fitur media sosial placemen, dedicated admid pembalas untuk engage audience boost ads.Saat ini, sebut dia ada sejumlah media yang dikelola oleh Kemenparekraf/Baparekraf untuk kepentingan promosi dan edukasi.

Sementara itu, Valentino Loys dari Travel Journalis Nasional Geoprapic menerangkan bahwa sebuah dimensi yang sangat istimewa dalam pariwisata muncul ketika orang bepergian atau mengunjungi tempat-tempat yang jauh, tanpa perlu melakukan perjalanan pindah dari rumah mereka sendiri.

“Ini adalah dimensi yang diberikan oleh film/video/cerita dokumenter perjalanan atau dokumenter pariwisata kepada masyarakat. Dimensi ini pula yang akan memicuh orang-orang untuk melakukan perjalanan atau berwisata demi mendapatkan pengalaman langsung atau terhubung secara fisik dengan tempat atau orang atau peristiwa yang ditonton,” ujarnya.

BACA JUGA:  Mewujudkan Kota Labuan Bajo Sebagai Water Sensitive City

Dengan demikian, perjalanan yang dilakukan tidak lagi hanya sekadar melihat keindahan atau refreshing semata, tapi perjalanan yang memiliki konsep atau tema serta miliki sasaran khusus. Film dokumenter dalam pariwisata misalnya dapat membuat orang lebih memahami hal-hal esensial, menggali hal-hal yang dianggap sepeleh atau kecil secara lebih detail dari sebuah tempat atau destinasi. Bahwa alam dan makluk hidup yakni manusia, tumbuhan, hewan di sebuah tempat, memiliki cerita-cerita yang panjang dan terhubung satu sama lain.

Dengan kekuatan audio dan visual, dokumenter akan lebih cepat mempengaruhi orang. Suara yang diperdengarkan dan gambar yang bergerak, termasuk ekspresi atau mimic memiliki kekuatan untuk menggiring  otak memahami, memikirkan dan merasakan. Dokumenter memberi eksplorasi yang luas dan dalam tentang kehidupan. Meskipun bergenre tourism atau travel documentary, tapi manusia menjadi fokus dalam videonya. [kis/fg]

BACA JUGA:  Konsep Pembangunan Pariwisata di IKN, Adopsi Wisata Labuan Bajo

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button