LINGKUNGAN HIDUP

Bumi Bukan Milik Manusia, Manusialah Milik Bumi

Penulis: Benny Kasman

Pada mulanya manusia telah menerima bumi ini. Segala sesuatu darinya dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sadar akan itu, manusia menjaga kelestarian untuk keberlanjutan planet yang satu ini. Amat istimewa termin dalam linguis Latin memproklamasikan keterkaitan bumi dan manusia: Terra Nostra-bumi kita.

Disini memuat pesan hukum keseimbangan bumi dan manusia, antara pelestarian bumi dan manfaat bagi manusia. Untuk jangka waktu yang panjang cakrawala tentang bumi yang istimewa ini dipahami tak hanya ikut pemikiran garis lurus saja. Ada kelokan-kelokan pemahaman dari zaman lampau hingga dewasa ini.

Suatu ketika lahirlah saat kemenangan rasio. Ilmu dan teknologi moderen muncul, dan itu dipandang berkat buat manusia untuk menguasai alam. Karena itulah manusia tiba-tiba meletakan alam sebagai sesuatu yang gelap, liar dan kacau. Maka terjadilah di pelbagai belahan dunia diadakan kerja-kerja mengeksploitasi bagian-bagian bumi. Pengeksploitasian itu terjadi tak hanya di tanah kelahiran ilmu moderen saja-pada awalnya dunia Barat. Tapi kemudian dengan pelan-pelan merambah ke hampir separuh dunia ini, termasuk di tanah Nusantara juga Nusa Bunga (Flores).

BACA JUGA:  Penanaman Bambu Warnai Iven IFG Labuan Bajo Marathon

Kita telah melihat proses perkembangan pènghancuran itu, bukan hanya bumi, komunitas manusia pun menelan korban. Tak cuma ekonomi terkena dampak. Tapi politik juga ikut terseret. Memang benar, awal mula seringkali dirasakan keuntungannya. Namun kadang tak terpikirkan beban bahaya dan ketidakadilan. Manusia untuk suatu masa tertentu hanya sibuk dengan diri sendiri sementara lingkungan hidupnya diabaikan.

The times they are changing-kata pepatah suku bangsa Inggris-zaman berubah. Muncul kesadaran akan masalah otoritas, politik, lingkungan dan ketidakpedulian generasi tua tentang keberlanjutan bumi di masa depan . Tak lama kemudian aktivis menelurkan gerakan ekologis. Semula mereka diejek kalangan yang berkuasa sèbagai manusia aneh dan agak sedikit gila! Mereka membikin produk-produk kecil tidak memakai kimia, usahanya dengan metode kearifan lokal, keuntungan besar tidak dipedulikan.

Mayoritas pemuda mempraktikan pembaruan itu. Semakin lama semakin banyak pengikut mulai dari sayur-sayuran organik hingga kosmetika dibuat tanpa merusak bumi. Pintu untuk memasuki dunia baru menuju pembaruan, dimana ditawarkan barang yang tidak mengandung kimia sudah masuk di setiap pasar. Tiba-tiba ekologi menjadi tematika yang cukup menguntungkan dari sisi ekonomi. Juga sistem pertanian ditawari pilihan pertanian organik; terpadu sesuai lingkungan sekitar, manusia, ternak dan alam.

Semuanya saling keterkaitan-holistik. Di Indonesia khususnya Pulau Flores masih ditemui praktik mengolah tanah dengan tenaga manusia, peralatan manual, ditanam tanpa pupuk kimia dan benih lokal tertentu ada di tangan petani. Barangkali pola bertani tersebut dilandasi pengalaman tuturan lisan para leluhur yang tak lekang ditelan zaman. Dalam keyakinan purba suku bangsa Manggarai misalnya, dilukiskan dengan terminologi tentang bumi sebagai ende tana wa-ibunda bumi. Atau keyakinan suku Indian Suquamish di Amerika tentang bumi yang diserukan pada 1848.

BACA JUGA:  Indonesia Merupakan Negara Penghasil Sampah Plastik Terbesar Kedua di Dunia

“Setiap bagian dari bumi sakral buat kami. Kalau pucuk pohon pinus, pantai berpasir, embun di pepohonan, dengung serangga adalah suci dalam pikiran dan pengalaman rakyat kami. Bumi bukan milik manusia, manusialah milik bumi. Segala sesuatu bertalian bagai darah menyatukan keluarga. Semuanya saling bertautan”. *

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button