EDUKASI

Mengenang Mereka di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2024

Prosa Kecil Buat Guruku

Hari ini terasa ada sepenggal

duka menggores di langit

angan – angan

Ketika kita menghitung jari – jari waktu dan balon – balon kecil berhamburan dari

jantungmu ;

 

” Berangkatlah, anakku !

Berangkatlah dengan

perkasa menuju bukit

Tepiskan segala kabut

Redamkan semua takut

karena hikmah

pengembaraan adalah tasik

yang bening

Alangkah setia menunggumu

Di laut pengabdian

Di pantai kemanusian

 

Lihatlah, anakku !

Matahari tak pernah letih

menyodorkan sinarnya

Bulan dan bintang

menawarkan kedamaian

Tuhan mahabijak

melebarkan sayap dan

pikiranmu

 

Bacalah dengan nama Tuhanmu

Bacalah otakmu dan

pandanglah tanda – tanda kebesaran – Nya

sekitarmu !

 

Kayuh perahumu, anakku

BACA JUGA:  Unika Ruteng Gelar Program Penelitian Pemetaan Kuantitas dan Kualitas Guru

Pacuh terus ke dasar lautan

ilmu

Pasang kemudi;  sekuatnya

Kibarkan layar;  perjuangan

Gemahkan temali doa – doa;

Ya Tuhanku angkatlah derajat para guru – guruku

Tanpa mereka bagaimana bisa menyusuri kegelapan,  sementara lenteranya ada di kedua

tangannya

 

Terimakasih, guruku

Jiwamu adalah napas

kehidupan

 

Kami kenangkan semua itu

Seperti juga kami kenangkan

setumpuk teori

mengganyang di batok

kepalamu

Desah parau suaramu

Menggemah di ruang – ruang

kelas

Peluhmu mengalir dari

jantung

Menetes – netes di papan tulis

Dan kami pun mengangguk –

angguk lantaran capeh dan

ngantuk

 

Maafkan kami, guru

Belum tuntas terjawab jerih

payah pengabdianmu

Dan kebandelan kami

BACA JUGA:  Guru adalah Suluh yang Menerangi Muridnya di Jalan Kegelapan

Kebandelan kami, guruku

Hanyalah nuansa perjalanan

anak tualang

 

Hari ini kita bentangkan kembali

jari – jari kenangan

ketika engkau berkisah

tentang hari – hari berkabut;

 

” Tengoklah dunia nyata di

sekitarmu

Anak – anak gembala

mendengkur di punggung

kerbau

Para remaja melepaskan letih

di sudut – sudut kota

Mereka rindukan pendidikan

tapi biaya tak pernah mengijinkan

Mereka punya modal yang

cukup tapi sukma tak rindu

pendidikan

Dunia mereka tersaput

gumpalan kabut

Masa depan mereka adalah

sunyi yang ngeri

Mereka adalah saudara –

saudaramu

Nasibnya pahit matanya

buram

 

Dan engkau anakku

Jangan sia – siakan mendaki dari

lembah ke bukit

BACA JUGA:  Memberdayakan Komunitas, Mewujudkan Transformasi Sosial

Karena usia dan kesempatan

tak akan pernah bersahabat

dengan kelalaian

Meskipun airmatamu

tercurah di perut bumi

Tangismu duka seluruh jagat

penyesalan berkepanjangan ”

 

Terimakasih, guruku

Napasmu adalah suluh

pengembaraan

 

Kami kenangkan semua itu

seperti juga hari ini ketika

engkau melepaskan kami dengan senyum

Matamu pijar memancarkan

harapan yang kental

Menyulut api dalam dada

Mengantarkan kami kedepan pintu

gerbang kemerdekaan;  samudera ilmu

yang mahadalam. [Syukur Abdulah]

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button