BUMI MANUSIA

Pesona Kawaliwu, Potensi Pariwisata dan Pertanian Lahan Kering

FLORESGENUINE.com-Untuk mencapai Desa Kawaliwu, Kecamatan Lewo Lema, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dapat ditempuh dengan sepeda motor atau angkutan pedesaan sekitar 30 menit perjalanan dari Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.

Jalan menuju Desa Kawaliwu relatif baik, meskipun di beberapa titik, kondisi jalannya berlobang atau rusak akibat tergerus banjir dan lalu lalang kendaraan. Kawaliwu adalah sebuah kawasan indah yang terletak di jalur pantai bagian utara Flores Timur. Kawasan Kawaliwu yang membentang kurang lebih 30 km dikitari beberapa desa di sekitarnya lain seperti Desa Ile Padung dan Riang Kotek.

Wilayah ini, memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Jambu mente merupakan salah satu komoditi andalan bagi masyarakat setempat. Sejauh mata memandang, terbentang hamparan pohon mente yang tumbuh di atas ratusan hektar lahan kering. Hampir tiada lahan yang dibiarkan kosong atau tanpa ditanami mente dan tanaman perdagangan lainnya.

Di sepanjang jalan yang melewati Kampung Lewotala, Riang Kotek, Kawaliwu dan Leworahang, pohon-pohon mente tumbuh cukup subur dan memanjakan mata. Aloysius Ratu Hurint, seorang tokoh masyarakat setempat menuturkan, jambu mente adalah salah satu komodoti unggulan, selain kelapa, kemiri, kakao dan pisang.

BACA JUGA:  Tapak-Tapak Undur Proyek Geothermal Wae Sano

Jambu mente merupakan komoditas utama yang telah memberikan sumbangsih bagi peningkatan kesejahtraan masyarakat setempat. Rata-rata penduduk setempat adalah petani mente. Para petani telah membudidayakan mente sejak tahun 1980-an. Hingga sekarang, mente merupakan salah satu komoditas yang mampu meningkatkan perekonomian sebagian besar warga.

Setiap tahun, tak kurang sekitar 300 ton biji mente diekspor keluar daerah. Sebagian mente diekspor dalam bentuk gelondongan (biji) dan sebagian sudah diolah dalam bentuk kacang mente. Sementara, harga jual mente biji biasa dipatok dengan harga 20.000/kg, sedangkan kacang mente dijual dengan harga Rp 110.000/kg.

Kacang mente di wilayah ini terbilang berkualitas tinggi, karena diolah secara organik dan alami, tanpa bahan pengawet.

“Pembeli sangat senang membeli kacang mente dari sini karena cara pengolahan dilakukan secara organic, tanpa bahan pengawet,”tutur Hurint.

BACA JUGA:  Pesona Inkulturasi Dibalik Upacara Adat Penti Weki Peso Beo
Pantai Kawaliwu, destinasi wisata alam pantai yang pesona.(Foto : Kornelis Rahalaka/Floresgenuine)

Tercatat, ada dua perusahaan mente asal Jakarta yang mendampingi para petani mente di wilayah ini. Mereka mendampingi petani terutama teknik pengolahan mente pada masa pascapanen. Banyak petani mente merasakan dampak langsung dari hasil jambu mente. Mereka mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi selain sebagian hasil untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Meskipun kondisi alam di kawasan ini cukup gersang dan kering akibat musim hujan yang pendek dengan curah hujan yang rendah namun kawasan ini dikaruniai Tuhan beragam potensi alam yang cukup menjanjikan.

Selain potensi sumber daya alam pertanian dan perkebunan, Kawaliwu dan desa-desa di sekitarnya juga dikaruniai potensi pariwisata yang menakjubkan. Pantai Kawaliwu hingga Ile Padung merupakan kawasan wisata alam yang indah. Kawasan pantai ini berpasir coklat, terbentang luas sepanjang sekitar 10 km. Selain menikmati desiran ombak,para pengunjung akan disuguhi sunset di ujung Tanjung Bunga yang elok.

BACA JUGA:  Mengenang Balauring, Kota Perdagangan dan Pariwisata

Selain memiliki potensi pertanian dan pariwisata alam, masyarakat Kawaliwu dan sekitarnya terkenal masih memegang teguh adat dan budaya yang khas, sebagai warisan para leluhur mereka. Kawasan yang pernah luluhlantak diterjang gempa bumi disertai tzunami dasyat pada tahun 1992 ini juga dikenal luas sebagai daerah penghasil minuman khas  yakni arak dari pohon lontar.

Minuman beralkohol ini biasa disuguhkan pada setiap perayaan adat atau perayaan besar lainnya. Usaha minuman jenis arak ini biasa diusahakan oleh laki-laki dewasa sebagai salah satu matapencaharian mereka selain bertani dan nelayan. Warga setempat juga masih sering berburu binatang hutan.

Warga setempat rata-rata bekerja sebagai petani lahan kering. Selain menanam tanaman umur panjang seperti jambu mente dan kelapa, warga juga membudidayakan berbagai jenis pangan seperti jagung, padi, ubi dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sebagian dijual ke pasar. [kis/fg]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button