PARIWISATA

Pesan Sepasang Kekasih Berbulan Madu di Pulau Strobery

Oleh : Martin Meo Toda [Labuan Bajo]

Pagi itu, Selasa, 3 Oktober 2023, suasana di dermaga penyeberangan Labuan Bajo masih sepih. Tak lama berselang, sebuah mobil inova grand berhenti di halaman KP3 Labuan Bajo, tempat untuk mendapatkan pas jalan menuju ke kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Sementara di tepi dermaga, dua orang ABK (anak buah kapal) telah menanti kedatangan kami untuk diantar menuju kapal induk yang berlabuh agak jauh dari pelabuhan. Usai mengurus surat-surat perjalanan, kami lalu bergegas naik ke atas speed boat. Kapal cepat itu pun segera meluncur menuju kapal induk PV 01 yang berlabuh di laut yang dalam.

Perjalanan wisata kali ini mengambil rute, Labuan Bajo, Pulau Kelor, Pulau Kalong, Pulau Strobery, Pulau Komodo, Pink Beach, Pulau Padar dan Pulau Bidadari. Mr Keller dan istrinya Mrs Keller merupakan sepasang suami istri (Pasutri) yang baru saja menikah dan ingin berbulan madu (honey moon) di Indonesia.

BACA JUGA:  Yayasan Bintari Adakan Pelatihan dan Diseminasi Kajian Proyeksi Iklim dan Resiko di Labuan Bajo

Labuan Bajo adalah pilihan bagi sepasang pengantin muda ini untuk menikmati cinta dan kasih sayang mereka.

“Kami belum pernah ke tempat seindah ini. Kami ingin honey moon di sini,” ujar Mr Keller sambil memeluk erat kekasihnya.

Mr.Keller bersama istri sedang menikmati hidangan di atas kapal.(Foto:Martin Toda/Floresgenuine)

Kedua wisatawan tampak menikmati perjalanan ini. Sesekali mereka mengabadikan setiap momen yang mereka lihat. Lautan yang teduh dan tiupan angin sepoi-sepoi menambah kesan mendalam bagi sepasang pengantin muda ini.

Perjalanan menuju Pulau Strobery tidak membutuhkan waktu yang lama. Kurang dari satu jam perjalanan, kami sudah tiba di pulau mungil nan cantik ini. Kami segera turun ke darat dan naik ke atas bebatuan cadas yang penuh pesona. Barangkali belum banyak wisatawan yang tahu dan datang ke pulau yang satu ini.

BACA JUGA:  Indeks Kinerja Pariwisata Indonesia Lampaui Malaysia dan Thailand

Tidak diketahui siapa dan asal muasal pemberian nama strobery untuk pulau kecil yang terletak tidak jauh dari Kampung Rinca ini. Namun, menurut informasi yang berkembang bahwa nama strobery diberikan kepada pulau ini lantaran warna bebatuan di pulau seperti buah strobery. Strobery sendiri adalah salahsatu jenis buah yang terkenal berkhasiat bagi kesehatan.

Onggokan bebatuan di pulau ini dapat memancarkan warna-warni yang menyerupai strobery terutama usai hujan dan terpancar sinar matahari. Bila musim hujan tiba, pada bebatuan itu akan tampak guratan-guratan yang menyerupai strobery. Pada permukaan bebatuan tersebut akan memancarkan cahaya yang indah dan berwarna warni.

Mr.Keller bersama kekasihnya foto bersama di atas kapal.(Foto:Martin Toda/Floresgenuine)

Namun, keindahan Pulau Strobery perlahan mulai sirna, pasalnya, di kawasan itu mulai bertebaran sampah-sampah plastik. Kondisi ini tentu tidak hanya merusak keindahan tetapi sekaligus berbahaya bagi kelestarian alam di sekitarnya. Keadaan ini pula yang dikeluhkan oleh Mr. Keller dan istrinya.

BACA JUGA:  Fransiskus Teguh : Komodo Travel Mart, Ajang Campaign Green Action

“Semoga sampah-sampah tidak dibuang di tempat ini. Ini akan mengotori laut dan merusak hutan bakau yang ada di sini,”ungkap Mr. Keller dengan nada berharap.

Keluhan ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama. Kedua wisatawan itu pun mengatakan bahwa mereka berencana suatu waktu mereka akan datang lagi untuk menikmati keindahan alam Labuan Bajo, Flores ini.

“Ya…kami berencana datang lagi. Doakan ya…semoga, saat kami ke sini lagi sudah bersama anak-anak kami,” ujar Mrs. Keller sambil tersenyum kecil.*

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button