PARIWISATA

Aku Terkenang Labuan Bajo, Kota Pariwisata Super Premium

Oleh Jack Herin [Sikka]

Terima kasih kepada Bapak Presiden RI Joko Widodo yang telah memperkenalkan Labuan Bajo kepada para pengusaha lokal, nasional dan internasional. Kota Labuan Bajo dan kepulauan Komodo menjadi terkenal setelah Joko Widodo mengadakan sejumlah kegiatan bertaraf internasional.

Tanggal 20 Juni 2023 saya mengunjungi pelabuhan laut dengan dermaganya yang terlihat megah. Kemudian, tanggal 5-6 Juli 2023, saya berjalan-jalan mengelilingi kota Labuan Bajo mulai dari pelabuhan laut, pantai dan bukit-bukit yang tandus.

Diatas puncak-puncak bukit di seluruh wilayah sekitar pelabuhan dan pesisir pantai penuh dengan bangunan hotel dan rumah-rumah kos dan penginapan milik para pengusaha yang datang dari negeri yang jauh untuk mencari makan di Labuan Bajo di Pulau Flores bagian barat.

Saya teringat akan cerita Elizer Bonay, Gubernur pertama Papua Barat. Setelah tanggal 1 Mei 1963, Tentara Nasional Indonesia (TNI) masuk ke Pulau Irian Barat (Papua Barat) merupakan awal dari semua pelanggaran hak hak asasi manusia (HAM). Secepatnya, orang Indonesia tiba di negeri kami, sesuatu yang tidak kami harapkan mulai terjadi, ada sejumlah permasalahan, kekejaman, pencurian, penculikan, penyiksaan, penganiayaan dan perampasan tanah-tanah rakyat.

Tanah-tanah rakyat dibeli dengan harga murah, kemudian dijual kembali dengan harga mahal. Semoga permasalahan seperti ini, tidak terjadi di Labuan Bajo. Di atas puncak bukit, hanya terlihat bangunan yang megah dan rumput-rumput yang telah mengering. Tidak ada pohon-pohon yang tumbuh disekitarnya. Saya bertanya pada diri sendiri, “mengapa pohon pohon tidak ditanam di sekitar bukit untuk menahan hujan badai dan tanah longsor?

Sebaiknya kita belajar pada Pater Hendrik Boleng SVD. Pada tahun 1976, Tuan Boleng, pastor dan seorang misionaris barat ini biasa disapa, bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Sikka dibawah kepemimpinan Bupati Lorens Say membuat program menanam pohon turi dan lamatoro di ladang-ladang yang tandus.

Tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 1984, sungai Batik Wair yang mata airnya telah mengering bertahun tahun, muncul kembali sampai hari ini. Mendengar kabar gembira ini, Mentri Lingkungan hidup kala itu, Prof. Emil Salim datang ke Sikka untuk melihat sungai Batik Wair. Ketika tiba di sungai, ia menundukkan kepalanya, mengambil air dengan kedua tanganya, kemudian diminumnya.

BACA JUGA:  KemenPPN Evaluasi Pembangunan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo

Para penduduk yang menyaksikan adegan sang menteri, meneteskan air mata haru. Dalam Majalah Lingkungan Hidup, Prof Emil Salim menulis demikian; Di Hulu Sungai Batik Wair di Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka di Pulau Flores, Propinsi NTT, rakyat berkelompok membangun teras dan menanam pohon dibawah bimbingan Pater Hendrik Boleng SVD, seorang pimpinan gereja di sana.

Tanah NTT kering gersang dihempas angin panas dari gurun pasir Australia. Di atas tanah kering ini alang-alang segan hidup. Dan tidak ada tanaman dan hewan. Tanpa tanaman dan hewan, tidak ada kehidupan manusia.Tapi berkat kerja keras bertahun-tahun, Sungai Batik Wair bisa dialiri air kembali. Juga dimusim kemarau dan rakyatpun tersenyum.

Kita juga perlu belajar dari Pater Marsel Agot SVD yang menanam pohon-pohon mahoni di kali kering dekat dengan kuburan seorang pastor Belanda, seorang antropologi yang meninggal dunia di Labuan Bajo. Berkat pohon-pohon yang ditanam Pater Marsel, mata air pun muncul sampai hari ini dan dijadikan tempat peliharaan ikan.

Terima kasih saya ucapkan pula untuk Presiden RI Joko Widodo yang telah beberapa kali mengunjungi Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat. Kota Labuan Bajo telah menjadi kota internasional. Banyak kemajuan dibidang ekonomi, dan banyak pengusaha yang menanamkan modalnya di sana.

Banyak papan nama bertulisan nama-nama pemilik tanah, tentu bukan nama penduduk asli Labuan Bajo. Sejak beberapa tahun lalu, pemilik tanah telah pindah jauh dari kota Labuan Bajo. Banyak tanah warga telah dibeli oleh kaum pendatang dan para pengusaha. Pemilik tanah, suatu ketika akan menjadi orang-orang miskin yang tinggal diatas kekayaan alamnya. Mereka akan sama seperti anak-anak Papua.

BACA JUGA:  Tiba di Labuan Bajo, Kapolda NTT Langsung Cek Progres Pembangunan Rusun Polres Mabar

Luas wilayah Kabupaten Manggarai Barat 3,141,47 km dengan jumlah penduduk 256.317 ribu jiwa. Harga tanah dipasaran berkisar Rp.10 juta per meter. Sedangkan dalam surat keputusan bupati, harga tanah Rp 3 juta meter persegi.

Sementara itu, di puncak sebuah gunung, telah dibuka kolam renang internasional dengan jalan tol yang maha mulus. Padahal, banyak desa belum dialiri listrik. Simon Sukur, seorang tua adat setempat mengatakan bahwa warga mengeluh karena di wilayah ini belum ada listrik.

Penerintah kabupaten atau kecamatan mungkin belum pernah mendengar keluhan seperti ini. Warga itu lantas meminta bupati agar terbitkan surat larangan bagi warga menjual tanah milik mereka. Pasalnya, jumlah uang miliar rupiah, namun uang itu suatu ketika akan habis sedangkan tanah tidak akan pernah habis.

Labuan Bajo ini, sebaiknya dikembangkan pariwisata budaya. Pariwisata budaya sangat sesuai dengan karakter dan budaya masyarakat Manggarai Barat. Pariwisata budaya akan lebih banyak diminati oleh para wisatawan daripada meniru model pariwisata di tempat lain yang tentu saja berbeda karakteristik dengan kebudayaan lokal.

Kesamaan budaya menjadi modal yang penting untuk pengembangan dan pembangunan kawasan ekonomi. Kedekatan geografi dan kesamaan budaya akan menghadapkan kita pada tantangan yang sama dalam pembangunan kekuatan ekonomi, meningkatkan ketahanan budaya dalam menghadapi pasar bebas dan globalisasi.

Untuk itu, kewajiban pemerintah adalah melatih seni dan keterampilan masyarakat seperti menghasilkan cindramata yang bermutu kwalitasnya. Pemerintah dapat membangun pusat-pusat cindramata untuk dijual kepada para wisatawan. Selain itu perlu dikembangkan UMKM-UMKM yang menyediakan beragam kuliner lokal khas Flores.

BACA JUGA:  Wisata “Seribu Air Terjun” Wae Lolos, Jadi Turis di Tanah Sendiri

Melakukan pendampingan terus menerus kepada masyarakat yang mempunyai usaha penginapan skala kecil, serta agen-agen perjalanan dan jasa wisata lainnya. Berbagai upaya ini tentu dalam rangka untuk juga meningkatkan pendapatan daerah

Perlu mengorganisir perkumpulan-perkumpulan yang bergerak diperbagai bidang yang terkait erat dengan pariwisata guna meminimalisasi persaingan yang tidak sehat, konflik sosial lantaran adanya perebutan lahan usaha atau praktik pecaloan tanah.

Tentang pertumbuhan ekonomi dan ketahanan budaya ini, sebaiknya dibuang jauh jauh pemikiran batas-batas daerah. Tanpa keunggulan ekonomi tertentu dan kesadaran budaya yang kuat kita akan tergilas oleh badai ekonomi dunia dan globalisasi yang sangat kuat dewasa ini.

Yang paling penting adalah kerjasama pemerintah dengan masyarakatnya. Kita semua seharusnya menyadari bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonmi rakyat, secara terus menerus diperjuangkan oleh pemerintah. Setiap hari, perbandingan jumlah penduduk dan persediaan kebutuhan makanan kian menganga. Makin hari banyak orang ingin makan, berpakaian, tinggal dalam rumah sendiri, pergi ke sekolah dan mencari pekerjaan.

Setiap hari banyak kekayaan kita disia-siakan oleh penyelundupan, korupsi dan salah urus. Pendapatan kita semakin hari semakin berkurang. Orang tidak dapat menabung lalu, karena tiada tabungan, orang tidak dapat menanamkan uang kedalam usahanya. Ia tidak dapat bekerja secara lebih efisien dan efektif. Ahkirnya, hasil pendapatannya tidak naik-naik. Ia pun jatuh miskin atau tidak sejahtra.

Keadaan ini bisa terus berulang.Kemiskinan tak kunjung habis,walaupun kita berusaha lebih giat. Inilah yang dinamakan lingkaran setan. Untuk itu kita butuh kesadaran. Memberi teladan hidup sederhana, dan merapatkan barisan untuk bekerjasama dan bekerja bersama membangun pariwisata Labuan Bajo agar lebih baik, berkeadilan dan bermartabat.*

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button