PANGAN

Orang Muda Enggan Bertani, Krisis Pangan Menghantui Dunia

Editor Kornelis Rahalaka

Minat orang muda menjadi petani kian memudar. Arus kapitalisme global telah menyeret angkatan muda ke dalam situasi tak menentu. Orang muda cenderung mencari pekerjaan yang mudah mendapatkan uang di kota, ketimbang harus tinggal di kampung dan menjadi petani.

Fenomena ini mulai terasa sejak beberapa dasawarsa terakhir ini. Keadaan ini diperparah oleh kurikulum-kurikulum pendidikan kita yang semakin menjauhkan orang-orang muda dari dunia pertanian. Padahal, kita memiliki sumber daya alam yang sungguh amat kaya dan beragam.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa minat orang muda terhadap dunia pertanian makin merosot dari tahun ke tahun. Orang-orang muda enggan menjadi petani bahkan sebagian dari mereka pernah bersekolah pertanian. Sungguh ironis memang. Situasi demikian, tentu mencemaskan banyak orang.

Beragam alasan melatarbelakangi krisis petani muda ini. Sebut saja, dibenak orang muda tertanam pemikiran bahwa menjadi petani adalah pekerjaan yang kotor, kurang menjamin kehidupan masa depan, tidak mau mewarisi profesi orang tuanya sebagai petani serta alasan-alasan lain yang seakan bertani adalah profesi rendahan dan tidak mendatangkan keuntungan.

Potret buram di atas seperti diungkapkan oleh Arnoldus Stara (60), petani asal Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling. Dia mengungkapkan keprihatinannya atas sikap orang-orang muda yang tidak mau menjadi petani. Ia menyebut, banyak anak-anak muda yang setelah menamatkan sekolah atau kuliahnya, mereka kenbali ke kampung tapi tidak mau menjadi petani.

“Sekarang ini, kami sulit mencari tenaga kerja untuk bersih kebun. Anak-anak muda setelah tamat sekolah, pulang tinggal di kampung dan menganggur saja. Mereka tidak mau kerja kebun,”ceritra bapak tiga anak ini dengan nada sedih.

Orang-orang muda kini lebih senang memilih bekerja di kantor pemerintah atau bidang lain yang cepat mendatangkan uang seperti menjadi tukang ojek atau penjaga toko.Banyak juga orang muda yang tinggal di kampung bersama orang tuanya dan hanya menggantungkan hidup pada warisan orang tua mereka.

BACA JUGA:  Memotret Situasi Kehidupan Para Petani Manggarai Barat

Padahal, menurut Arnol, lapangan pekerjaan sangat terbuka lebar. Selain bertani, mereka bisa beternak atau pekerjaan lain yang bisa mendatangkan kesejahtaraan. Bertani juga sesungguhnya bukan pekerjaan sulit, karena  hampir semua warga miliki tanah. Tanah merupakan aset berharga bagi petani. Bertani juga tidak membutuhkan modal atau uang yang banyak. Ia hanya butuh ketekunan dan kerja keras.

“Orang tua kita dulu kerja kebun, tidak pake modal uang tapi mereka bisa hidup baik dan mampu sekolahkan anak-anaknya,”ujarnya.

Profesi sebagai petani itulah yang diwariskan oleh Bapak Arnol kepada ketiga anaknya yang sudah beranjak dewasa. Selain berkebun, Arnol juga menekuni beberapa usaha sampingan seperti beternak babi dan mengiris tuak untuk menghasilakn gula aren atau moke. Ia juga rajin menanam tanaman komoditi seperti cengkeh, vanili, kopi, kemiri dan buah-buahan.

Memang  sulit bagi orang-orang muda terjun di dunia pertanian, jika wajah pertanian kita belum berubah. Pola pikir dan pola kerja mesti harus diubah. Selain edukasi dan inovasi teknologi, pandangan orang tua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi pegawai negeri juga sangat mempengaruhi pola pikir orang-orang muda kita.

Cara pikir orang tua yang demikian, juga sebenarnya tidak salah karena terlahir dari frustasi orang tua yang mengalami hasil pertanian mereka, kurang menjanjikan untuk hidup lebih sejahtra. Alhasil, mendorong anak-anak muda untuk kembali mencintai dunia pertanian tak lagi mudah. Apalagi di era teknologi digital seperti sekarang ini, meyakinkan orang muda untuk menggeluti dunia pertanian boleh dibilang semakin mustahil.

Hasil penelitian AKATIGA, sebuah lembaga peneliti yang memfokuskan diri pada isu-isu pedesaan menyebutkan, orang-orang muda yang bergerak dibidang pertanian rata-rata adalah kaum perempuan muda. Namun, posisi perempuan yang bekerja sebagai petani ini sangat riskan karena menurut adat Manggarai, perempuan tidak memiliki akses terhadap tanah.

Tanah biasanya, hanya diberikan kepada anak laki-laki. Hal ini membuat kaum perempuan takut atau ragu untuk terlibat dalam kerja-kerja pertanian. Mereka merasa kurang nyaman bila sewaktu-waktu, mereka harus kehilangan pekerjaan, lantaran tanah-tanah diambil kembali oleh orang tua atau saudara laki-lakinya.

BACA JUGA:  Pesona Kawaliwu, Potensi Pariwisata dan Pertanian Lahan Kering

Masalah lain yang ditemui adalah minimnya pembangunan infrastruktur seperti saluran irigasi khususnya di wilayah Lembor dan sekitarnya. Di Desa Ngancar misalnya, masalah air masih merupakan persoalan krusial. Di wilayah ini, petani muda masih didominasi oleh kaum perempuan.

Mereka bertani mulai dari bersih rumput, menanam, mengetam hingga panen dan pasca panen. Seluruh proses produksi hampir dikerjakan oleh perempuan. Selain banyak perkerjaan rumah tangga yang juga harus mereka kerjakan seperti kasih makan babi, mencuci, memasak dan mengurus anak.

Temuan lain menyebutkan bahwa banyak juga orang muda yang tertarik untuk bertani, namun mereka tidak bekerja maksimal karena ketiadaan fasilitas juga tak punya kelompok atau organisasi-organissi tani yang dijadikan tempat untuk mereka berbagi pengalaman hidup. Mereka hanya punya satu wadah yakni OMK (Orang Memuda Katolik) yang ada di paroki dan tidak menjangkau orang-orang muda di desa.

Beberapa perempuan muda mengaku ingin mengembangkan pertanian berskala kecil tapi ketiadaan air sehingga mereka tidak bisa bertani. Padahal, banyak tanah kering yang bisa mereka kelola

“Akses air yang sulit sangat dirasakan oleh perempuan, padahal mereka punya keinginan agar di pekarangan rumah mereka bisa ditanami sayur-sayuran. Selain masalah air, banyak hama seperti anak babi yang dibiarkan berkeliaran,”ujar Karina peneliti.

Bicara petani muda seolah tak pernah habisnya. Banyak persoalan yang melilit minat orang-orang muda untuk terjun di dunia pertanian. Selain persoalan pola pikir, sikap gotong royong sebagai ciri khas utama dalam kerjasama kian luntur. Gotong royong semakin hilang lantaran banyak orang lebih memilih bekerja dengan upah harian, ketimbang bekerjasama dan bekerja bersama-sama di lahan mereka sendiri.

BACA JUGA:  Menyelaraskan Pertanian, Ekosistem dan Ekonomi
Sejumlah petani sedang belajar teknik budidaya vanili.(foto:kornelis Rahalaka/Floresgenuine)

Beberapa perempuan muda bercerita bahwa mereka terpaksa bekerja dengan upah harian meskipun upah yang dibayar terbilang sangat rendah. Seperti diungkapkan Theresia Jia, seorang perempuan muda yang ditemui Floresgenuine di Kampung Cecer beberapa waktu lalu.

Ia menyebutkan, ada perbedaan perlakukan pembayaran upah antara perempuan dan laki-laki. Upah sangat tergantung pada kesepakatan antara pemilik lahan dengan para pekerja. Pada umumnya, upah kerja yang diterima oleh perempuan lebih rendah daripada yang diterima oleh laki-laki. Pada umumnya, untuk upah kerja perempuan berkisar antara Rp.35.000-Rp.50.000 sedangkan upah untuk laki-laki berkisar antara Rp.50.000- Rp.70.000/hari.

Adanya perbedaan upah kerja antara perempuan dan laki-laki di wilayah ini, tidak diketahui secara pasti. Namun, yang pasti penetapan upah kerja sudah merupakan sebuah kebiasaan yang telah berlangsung lama. Nilai upah tersebut sudah termasuk makan minum serta rokok bagi yang laki-laki.

“Saya tidak tahu, mengapa ada perbedaan upah kerja antara laki-laki dan perempuan, tapi sepertinya sudah menjadi kebiasaan. Memang tidak adil tapi mau bilang lagi,”ujarnya.

Padahal, sebut dia, dilihat dari beban kerja sesungguhnya sama saja antara perempuan dan laki-laki. Hanya terkadang, laki-laki dibutuhkan tenaganya untuk menebang pohon atau mengangkat beban yang lebih berat yang tidak mampu diangkat oleh kaum perempuan. Jadi, menurut dia, penentuan besaran upah sangat bergantung pada hasil musyawarah bersama.

Berbagai persoalan tersebut serta keengganan orang-orang muda untuk terjun di dunia pertanian atau menjadi petani adalah ancaman nyata dan masalah serius yang dihadapi oleh banyak negara di dunia.

Banyak ahli memprediksi, negara-negara di dunia akan menghadapi krisis pangan yang serius. Krisis pangan bukan semata-mata terjadi akibat perubahan iklim global dan ancaman keamanan di wilayah-wilayah tertentu tetapi krisis pangan juga bakal menimpah banyak negara di dunia lantaran orang-orang muda enggan menjadi petani yang adalah penyedia pangan bagi kehidupan umat manusia.*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button