BUMI MANUSIA

Bak Penampung Hujan, Cara Warga Kedang Memenuhi Kebutuhan Air di Musim Kemarau

FLORESGENUINE.com- Bagi sebagian masyarakat Kedang, di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), keberadaan bak penampung hujan sudah merupakan sarana paling vital guna menjamin ketersediaan air bersih di musim kemarau.

Beberapa desa di Kecamatan Buyasuri dan Omesuri, kehadiran bak tadah hujan sudah merupakan kebutuhan yang mau tidak mau harus dibangun untuk menampung air hujan, tak heran, hamper di setiap rumah tangga di sejumlah desa tersebut, bak-bak penampung hujan dibangun di halaman rumah penduduk.

Selama puluhan tahun warga Kedang mengonsumsi air hujan. Mereka membangun bak-bak untuk menampung air hujan di musim hujan dan air hujan tersebut baru akan digunakan pada musim kemarau.

BACA JUGA:  Kabupaten Lembata Kekurangan Dokter Spesialis Kandungan

Maklum, masih banyak desa di Kedang sulit mendapatkan akses air bersih. Meskipun di wilayah tersebut memiliki beberapa sumber mata air yang bisa dkimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, jarak sumber air bersih dengan perkampungan penduduk lumayan jauh. Tak heran, warga harus rela berjalan kaki beberapa kilometer untuk mengambil air.

Bak penampung air hujan. (Foto : Kornelis Rahalaka/Floresgenuine)

Kondisi ini seperti ini sudah dialami oleh sebagian penduduk seperti warga di Desa Panama, Mahal, Benihading, Atulaleng, Roho, Loyobohor, Leuburi dan Ai Hua. Di beberapa desa tersebut, sebagian besar warga masih mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan seperti mandi, memasak dan mencuci.

Bak-bak penampung air hujan pada umumnya dibangun secara swadaya oleh masing-masing rumah tangga. Pemerintah Lembata dibawah kepemimpinan Bupati Yance Sunur pernah merancang pembangunan jaringan air minum di lokasi Wei La’in di desa Aramengi.

Proyek yang dibangun dengan menggunakan teknologi tinggi itu, belakangan macet total. Padahal, jaringan pipa sudah dibangun di beberapa desa dan proyek tersebut sempat beroperasi beberapa bulan,

BACA JUGA:  Mengenang Balauring, Kota Perdagangan dan Pariwisata

Namun, proyek air minum tersebut akhirnya mubazir dan macet total. Selain, terkendala anggaran, juga masalah teknis. Alhasil, sejumlah bak penampung yang sudah dibangun oleh pemerintah serta pipa-pia yang di pasang menjadi rusak, mubazir dan dibiarkan tak terurus lagi. [kis/fg]

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button