BUMI MANUSIA

Desa Mata Wae, Mutiara Terpendam di Selatan Manggarai Barat

FLORESGENUINE.com- Mata Wae adalah sebuah desa kategori terpencil yang terletak di selatan Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Sejarah mencatat, Mata Wae  merupakan pusat pemerintahan kedaluan pada era kolonial.

Desa Mata Wae meliputi 5 kampung dengan total penduduk mencapai lebih dari 1500 jiwa. Meskipun Mata Wae masuk salah satu desa terpencil, namun kawasan ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Mata Wae boleh dibilang merupakan salah satu sentra ekonomi penting sekaligus poros utama yang menghubungkan beberapa desa di sekitarnya. Sebut missal, Desa Wae Sano, Sano Nggoang, Pulau Nuncung, Golo Manting, Golo Mori, Golo Sengang dan Nanga Bere.

Sama seperti desa-desa yang lain, Desa Mata Wae masih dihadapkan pada sejumlah masalah, mulai dari akses infrastruktur hingga sumber daya manusianya. Penduduk Mata Wae pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani yang sebagian besar adalah petani lahan kering. Tercatat, masih luas lahan-lahan kering di wilayah ini yang belum dikelola warga.

BACA JUGA:  Wisata “Seribu Air Terjun” Wae Lolos, Jadi Turis di Tanah Sendiri

Hanya sedikit terdapat lahan basah (sawah), namun hasil produksi pun kurang akibat terserang hama penyakit seperti hama wereng, tikus dan walang sangit serta kurangnya ketersediaan pupuk dan minimnya infrastruktur irigasi yang memadai.

Desa Matawae juga masih dihadapkan pada masalah agraria. Di mana hampir 2/3 wilayah Mata Wae yang merupakan hak kelola masyarakat adat masih diklaim oleh pemerintah sebagai kawasan hutan lindung. Pengambilalihan secara sepihak terhadap ruang kelola warga mengakibatkan sebagian warga kehilangan aset atas tanah, hutan dan air, sekaligus kehilangan akses untuk mendapatkan sumber-sumber penghidupan.

Topografi Mata Wae yang berbukit-bukit dan dataran rendah memungkinkan kawasan ini sangat baik untuk pengembangan pertanian, perkebunan dan peternakan seperti sapi, kerbau, kuda atau kambing.

BACA JUGA:  Pesona Inkulturasi Dibalik Upacara Adat Penti Weki Peso Beo

Dibidang pendidikan, masih dibutuhkan sarana prasarana sekolah yang lebih memadai. Pasalnya, fasilitas pendidikan yang dibangun belum sebanding dengan jumlah siswa/i dan para pendidik yang menjalankan tugas pengabdian di sekolah-sekolah yang ada.

Jamainan kesehatan masyarakat pun boleh dibilang masih belum memadai. Setiap musim hujan banyak warga terserang penyakit seperti malaria dan ispa. Ini terjadi lantaran populasi nyamuk di musim hujan boleh disebut cukup tinggi di wilayah ini. Di sisi lain, fasilitas kesehatan dan petugas belum cukup memadai.

Sementara itu, akses infrastruktur public berupa jalan dan jembatan untuk menghubungkan kampung-kampung di wilayah tersebut masih cukup memprihatinkan. Jalan yang beraspal belum menjangkau seluruh kampung. Sebagian besar jalan masih berupa jalan setapak atau telfor sehingga cukup sulit dilalui kendaraan terutama pada musim hujan. Demikian pula, di beberapa kampung belum ada jembatan penghubung seperti Wae Kli’I, Wae Racang, Wae Lia,Wae Wake dan Wae Kalo.

BACA JUGA:  Optimalisasi Potensi Pertanian, Upaya Atasi Krisis Pangan

Selain infrastruktur jalan dan jembatan, infrastruktur pertanian pun masih cukup minim diperhatikan oleh pemerintah seperti saluran irigasi sawah Ajo, Kleot, Karing, Angkor, Mberingin, Cempa, Lenkong Mese, Wue, Wae Wunis, Lengkong Doang, Malok Mbala, Watu Katur dan Polo. Sejumlah proyek irigasi pernah dibangun oleh pemerintah pada masa lalu, namun beberapa bangunan telah rusak disinyalir bermutu rendah. [kis/fg]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button