BUMI MANUSIA

Penti Weki Peso Beo, Ungkapan Syukur dan Rekonsiliasi Hubungan yang Retak

Editor : Kornelis Rahalaka

Penti merupakan salahsatu upacara adat khas suku Manggarai di Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ritual adat ini adalah warisan luhur dari nenek moyang mereka. Biasanya, penti weki paso beo, diadakan oleh sebuah komunitas adat yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam garis keturunan.

Ritual penti weki peso beo adalah ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh selama setahun sekaligus untuk memohon berkah Mori Agu Ngaran dan para leluhur untuk menjaga dan melindungi seluruh warga kampung serta segala karya usaha mereka di tahun-tahun mendatang. Bagi orang Manggarai, Penti dihayati sebagai momen spesial untuk menjalin rekonsiliasi serentak merajut kembali tali silaturahmi antar sesama warga kampung (beo).

Tak heran, di setiap acara penti, semua warga kampung berkumpul untuk merayakannya bersama-sama, baik warga yang menetap di kampung maupun mereka yang selama ini berdomisili di luar kampung atau di tanah rantauan.

Setiap upacara penti, warga diliputi suasana penuh sukacita dan damai. Keadaan itu dapat dirasakan dan diekspresikan dalam berbagai ungkapan sastra orang Manggarai atau yang dikenal dengan istilah go’et. Seperti penti weki-pe’so beo, reca rangga-wali ntaung; na’a cekeng manga curu cekeng weru (ucapan syukur kepada Tuhan  dan para leluhur karena telah berganti tahun, telah melewati musim kerja yang lama dan menyongsong musim kerja yang baru).

Seperti halnya upacara-upacara adat lainnya, penti mengandung pesan-pesan moral-spiritual, yang mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, hubungan antara manusia dengan manusia dan hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Boleh disebut, penti memiliki dimensi vertikal, horizontal dan sosial. Dimensi vertikal yakni sebagai ucapan syukur kepada Tuhan (Mori) dan kepada para leluhur (Empo) sebagai pencipta dan pembentuk (Mori Jari Agu De’de’k) yang harus disembah dan dimuliakan. Menghormati Tuhan sebagai sumber hidup dan penghidupan manusia.

Orang Manggarai mengakui kemahakuasaan Allah dan mereka tak lupa bersyukur kepada para leluhur (empo) yang telah mewariskan tanah (lingko) karenanya mereka memberikan persembahan yang pantas bagi para leluhur atas segala jasa dan kebaikan yang telah leluhur berikan kepada mereka.

BACA JUGA:  Mengenal Tempat Menyimpan Jagung Khas Nagekeo

Sedangkan dimensi sosial yakni memperkokoh persatuan dan kesatuan  wa’u (klen), panga (sub klen), ase-kae (adik kakak), anak rona (pemberi istri), anak wina (penerima istri). Selain itu, ritual penti secara tak langsung juga dimaksudkan untuk mempererat dan memperkuat eksistensi sesama warga kampung.

Sebagaimana terungkap dalam filosofi: gendang on’e lingko pe’ang, yang merupakan medium untuk memperkuat hak-hak ulayat yang dipegang teguh oleh para tetua adat atas lingko-lingko yang mereka miliki atau mereka garap.

Upacara penti juga dapat memperkuat kepemilikan tanah oleh warga yang telah menerima bagian dari lingko-longko tersebut, baik oleh mereka yang berada di kampung maupun yang berdomisili di tempat lain. Di mana, mereka mempunyai kewajiban moril untuk menjaga kelestarian lingkungan hidupnya, terutama di dalam komunitas kampung, pekuburan dan mata air.

Sedangkan, dimensi sosial dari upacara penti yakni momen spesial untuk reuni keluarga besar. Yakni sebagai ajang pertemuan bagi anggota komunitas yang punya hubungan genealogis dengan mereka yang merayakannya.

Perayaan ini tentu sebagai wadah untuk mengekspresikan rasa seni, memupuk tali persaudaraan antar sesama warga kampung. Tak heran, perayaan penti selalu diwarnai berbagai kemeriahan antara lain permainan caci, dading, de’re, sanda agu mbata dan lagu-lagu tradisional lainnya.

BACA JUGA:  Memotret Situasi Kehidupan Para Petani Manggarai Barat

Upacara penti ini juga sekaligus sebagai medium pembelajaran bagi para ibu atau anak-anak gadis untuk mengembangkan bakat dalam memainkan alat-alat musik tradisional seperti gong, gendang serta tata cara adat dan teknik memainkan berbagai alat musik tersebut.

Selain itu, sejumlah ritual adat biasa digelar dalam acara ini antara lain, upacara te’i hang ata tu’a ko empo (memberi sesajian kepada orang tua yang sudah meninggal atau para leluhur). Dan yang tak kalah penting, penti merupakan media paling efektif dalam membangun relasi perdamaian antar sesama warga kampung.

Seekor ayam sebagai hewan kurban dipersembahan untuk para leluhur.(Foto:ist)

Dengan demikian, penti tak sekedar pesta atau perayaan adat, melainkan mengandung nilai-nilai social yang tinggi. Penti merupakan sarana untuk mempererat relasi harmonis antar sesama warga kampung tanpa memandang status social, entah kaya atau miskin, tua atau muda.

Bagi orang Manggarai, penti juga memiliki nilai magis-spiritual, di mana dengan merayakan penti, orang Manggarai meyakini bahwa kehidupan mereka sebagai satu komunitas, mereka mampu terhindar dari berbagai sanksi magis oleh para leluhur. Hal ini dapat dimaknai dalam beberapa ungkapan goet seperti: ai boto nangki du uma main itu itang (kesalahan yang berpautan dengan kebun agar jangan sampai terkena atau terbukti).

Pada umumnya, upacara penti terdiri dari beberapa tahapan. Setiap tahapan, memiliki istilah, tata nilai dan maknanya masing-masing. Upacara penti biasa diawali dengan ritual yang diadakan di luar rumah seperti di area lingko, wae teku, boa (kuburan) dan compang (altar persembahan) hingga di Mbaru gendang (rumah adat) atau tembong.

Adapun urutan dari setiap tahapan ritual yaitu barong lodok, barong wae, barong boa, barong compang atau taking compang. Ritus ini sejalan dengan ungkapan sastra Manggarai yang terkenal yakni: Mbaru bate kae’ng,uma bate duat; Wae bate teku-natas bate labar, compang tara.

warga sedang berdoa di kuburan para leluhur.(Foto:ist)

Upacara Boa sendiri merupaan ritus khusus untuk menghormati para leluhur. Ritus ini diwarnai penyembelian hewan sebagai persembahan diiringi doa-doa sesuai dengan norma adat. Usai melakukan ritus di compang, warga kemudian masuk ke rumah adat guna melaksanakan apa yang mereka namakan wisi loce (bentang tikar) yakni ajakan bagi para roh leluhur dari lodok, boa, wae teku dan compang untuk bersama-sama menantikan upacara puncak penti.

Seluruh tahapan ini merupakan satu kesatuan rangkaian acara yang tak dapat terpisahkan. Usai, semua warga kembali ke rumah masing-masing untuk melaksanakan libur kilo yakni penti yang dilakukan di masing-masing keluarga atau klan guna mengucap syukur kepada Tuhan dan leluhur sekaligus untuk meminta bimbingan dan penyertaan Tuhan dan leluhur untuk perjalanan hidup di masa mendatang.

BACA JUGA:  Jelajah Nagekeo, Daya Tarik Wisata dan Warisan Leluhur

Upacara libur kilo juga adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh anggota keluarga guna menjalin silaturahmi atau perdamaian antar sesama warga atau anggota keluarga yang pernah retak atau kurang harmonis.

Acara rekonsiliasi atau perdamaian atau orang Manggarai menyebutnya, hambor adalah ungkapan perdamaian dan wujud rekonsiliasi antar sesama warga kampung yang diekspresikan secara paripurna dan sempurna.*

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button