LINGKUNGAN HIDUP

Kawasan Taman Nasional Komodo dan Sekitarnya Rawan Kebakaran

Oleh Martin Meo Toda [Labuan Bajo]

Hampir setiap musim kemarau panjang, kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) dan sekitarnya sering dilanda kebakaran hebat. Kebakaran kerap terjadi tak lepas dari keadaan topografi wilayah yang sebagian besar terdiri dari padang savana yang luas, berikut kondisi alam yang kering sehingga rentan terjadi kebakaran.

Kawasan yang sering terjadi kebakaran hebar yaitu di kawasan Golo Mori, Menjaga, Warloka hingga kawasan Menjerite di bagian utara kota Labuan Bajo. Kebakaran juga sering melanda beberapa pulau di dalam kawasan Taman Nasional Komodo seperti di kawasan Gili Lawa, Laju Humali, Loh Wenci, Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

Peristiwa kebakaran pernah terjadi pada Minggu pekan lalu di kawasan Warloka di Desa Macang Tanggar. Kejadian itu menghanguskan puluhan hektar padang savana dan tentu menghanguskan berbagai flora dan fauna di wilayah tersebut. Peristiwa kebakaran di beberapa kawasn tersebut sudah berulangkali terjadi, namun pelaku sulit ditangkap dan sebab musebab kebakaran pun sulit diketahui secara pasti.

Meskipun sulit diketahui secara pasti sebab musebab kebakaran, namun sejumlah pihak mengungkapkan, kebakaran sesungguhnya disebabkan oleh beberapa hal seperti ada unsur kesengajaan. Ada warga yang memang sengaja membakar padang savana dengan tujuan untuk berburu binatang hutan atau agar pada musim hujan akan tumbuh rerumputan baru sebagai pakan ternak peliharaan mereka seperti sapi, kerbau dan kambing.

BACA JUGA:  Pemerintah Rencana Bangun Jembatan Golo Mori – Geopark Rinca

Seorang warga bernama Ali yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan tradisional kepada Floresgenuine-com akhir pekan lalu menduga kalau ada oknum warga yang dengan sengaja membakar padang savana di wilayah itu untuk mempermudah warga berburu binatang hutan atau supaya segera tumbuh rumput yang baru yang akan dipakai sebagai pakan bagi hewan peliharaan mereka.

Peristiwa kebakaran padang savana di kawasan ini kerapkali disaksikan pula oleh wisatawan yang kebetulan berkunjung ke beberapa destinasi wisata di wilayah ini.  Para wisatawan khususnya wistawan mancanegara tak jarang bertanya kepada tour guide perihal kebakaran yang terus terjadi dan seolah dibiarkan kebakaran itu terjadi tanpa ada upaya untuk melakukan pemadaman oleh petugas atau pemerintah setempat.

Seorang wisatawan asal Jerman bernama Wiliam Christopher kepada Floresgenuine.com mengaku heran karena kebakaran seolah dibiarkan terus terjadi tanpa ada upaya pemadaman. Sejumlah tour guide mengaku terkadang mereka merasa kesulitan ketika mereka harus menjawab pertanyaan para wisatawan terkait penyebab kebakaran.

BACA JUGA:  Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Keberlanjutan

Namun demikian, beberapa alasan dapat dikemukakan di sini seperti kebakaran bisa terjadi secara alami karena kondisi alam yang kering kerontang dengan suhu yang sangat panas. Sementara pada umumnya, kawasan perbukitan terdiri dari bebatuan cadas yang ditumbuhi rumput ilalang. Batu-batu cadas yang panas dapat memicu terjadinya percikan bunga api yang seketika menyambar rerumputan kering disekitarnya. Api akan dengan cepat menyebar dan membesar apalagi ditiup angin laut yang kencang.

Kebakaran dapat juga terjadi akibat perilaku buruk warga yang sengaja membakar padang savana untuk mempermudah aktivitas berburu binatang hutan atau agar tumbuh rumput yang baru guna menyediakan pakan bagi ternak peliharaan mereka.

Pemicu kebakaran juga timbul akibat puntung rokok yang dibuang secara sembarangan oleh warga atau para pengunjung yang datang ke wilayah yang rentan kebakaran. Kebakaran juga bisa dipicu oleh aktivitas para wisatawan yang melakukan beberapa kegiatan di lokasi wisata seperti membakar api unggun sebagai penghangat tubuh atau memasak makanan lalu lupa memadamkannya sehingga memicu kebakaran.

BACA JUGA:  Kunjungan Wisata ke Labuan Bajo Didominasi Wisatawan Mancanegara

Meskipun peristiwa kebakaran sudah berulangkali terjadi di beberapa kawasan TNK pun di luar kawasan, namun hingga kini, belum ada solusi untuk menanggulangi kebakaran. Setiap kali terjadi kebakaran, warga bersama petugas sering terjun ke lapangan untuk memadamkan api.

Minimnya fasilitas, sulitnya mendapatkan sumber air, keterbatasan tenaga personil, berikut maha luasnya padang savana adalah beberapa yang menjadi tantangan serentak hambatan dalam upaya mengatasi kebakaran.

Tak jarang beberapa kejadian kebakaran, petugas dan warga hanya mengandalkan fasilitas seadanya untuk memadamkan kobaran api atau mereka terpaksa hanya bisa berpasrah pada kehendak alam.*

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button