LINGKUNGAN HIDUP

Buaya Sering Memangsa Manusia, Alam NTT Semakin Tak Bersahabat

Editor Kornelis Rahalaka [Labuan Bajo]

Konflik antara manusia dengan buaya muara atau crocodylus porosus semakin sering terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kisah tragis seputar manusia diterkam dan dicabik-cabik buaya muara kerap menghiasi halaman berbagai media massa. Kabar terkini terjadi di Pantai Bean, Kecamatan Buyasuri, Kedang Kabupaten Lembata.

Seorang warga asal Leunahaq, Desa Panama, Rabu (13/9/2023) dikabarkan dimangsa buaya saat korban bersama dua temannya sedang beraktivitas menangkap ikan di perairan Bean. Korban bernama Goris ditemukan sudah tak bernyawa di perairan Atanila, Kecamatan Omesuri.

Tragedi kemanusiaan itu kerap berulang terjadi di wilayah ini khususnya dan sebagian wilayah NTT umumnya. Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTT menduga, konflik yang menimbulkan korban jiwa manusia berupa kematian atau luka-luka sangat boleh terjadi akibat beberapa faktor seperti semakin rusaknya kondisi alam NTT dan masifnya privatisasi pantai dan pesisir.

BACA JUGA:  Pengembangan Pariwisata Flores, Mengurangi Ketimpangan di Nusa Tenggara

Praktik privatisasi pantai dan pesisir berpotensi mengganggu habitat buaya muara rusak sehingga buaya terpaksa mencari habitat lain. Aktivitas manusia yang merusak kawasan di muara sungai seperti menebang hutan mangrove dapat mempengaruhi ruang hidup termasuk ketersediaan pakan alami buaya. Pembangunan tanpa kajian atau analisa mengenai dampak lingkungan dapat mengganggu habitat buaya bahkan kehilangan ruang untuk hidup.

Peristiwa yang berulang terjadi di NTT menurut WALHI, pembangunan di kawasan muara perlu memperhatikan lingkungan yang menjadi habitat asli buaya termasuk akses manusia khususnya para nelayan saat melakukan aktivitas melaut. Disini pemerintah perlu membuat pemetaan wilayah guna mengetahui wilayah mana saja yang layak menjadi pemukiman penduduk dan kawasan mana yang menjadi habitat buaya sehingga dengan demikian, tidak mengganggu habitat asli buaya.

Sementara itu, Suryana seperti dikutip dari website Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (Forestry Research and Development Agency/FORDA) Kupang 2014 lalu, menjelaskan, konflik manusia dan buaya yang kerap terjadi di NTT diduga disebabkan oleh beberapa hal.

Pertama, adanya dugaan ledakan populasi buaya, di mana jumlah populasi buaya di NTT naik secara signifikan.  Di sisi lain, habitat buaya yang menyediakan sumber makanan tidak dapat mencukupi sehingga buaya memperluas areal pencarian makanan.

BACA JUGA:  Tata Kelola yang Buruk, Konflik Agraria di NTT Meningkat

Kedua, rusaknya habitat buaya di alam yang memicu keluarnya buaya dari habitat aslinya.  Salah satu tempat yang dijadikan sebagai tempat mencari makan adalah daerah pemukiman penduduk.

Ketiga, adanya kegiatan-kegiatan ekonomi yang memancing buaya keluar dari habitat alaminya seperti di wilayah Kupang. Di mana, beberapa hotel dan restoran dibangun di wilayah ini.  Dampak negatif dari perkembangan ini yakni adanya sumber makanan bagi buaya yang dapat memicu kedatangan buaya pada tempat-tempat tersebut.

Keempat, adanya invasi masyarakat pada areal-areal jelajah dan habitat buaya.  Perkembangan jumlah penduduk mengakibatkan peningkatan ruang bagi manusia. Hal ini dapat dipenuhi dengan perluasan wilayah, namun perluasan tersebut diduga juga terjadi di daerah jelajah atau habitat buaya.*

BACA JUGA:  Membuang Jangkar ke Dasar Laut, Merusak Terumbu Karang

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button