LINGKUNGAN HIDUP

Membuang Jangkar ke Dasar Laut, Merusak Terumbu Karang

Oleh Martin Meo Toda [Labuan Bajo]

Siang itu, kapal kayu yang kami tumpangi bersama sejumlah wisatawan mancanegara merapat di dermaga  Pulau Kelor. Sebuah pulau mungil yang dapat ditempuh hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan speed boat dari kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Pulau berpasir putih dengan pemandangan alam bawah lautnya yang indah ini, merupakan salah satu spot wisata alam yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Sebuah dermaga kayu berdiri kokoh di pesisir pantai nan cantik itu.

Sementara itu, hanya beberapa meter dari dermaga, kira-kira selemparan batu, tampak sebuah bangunan berbentuk lopo dalam kondisi nyaris ambruk akibat diterjang badai atau gelombang pasang.

Sedangkan di ujung dermaga beberapa kapal wisata berlabuh, sementara kapal wisata lainnya lebih memilih berlabuh di tengah laut. Kapal-kapal wisata tersebut terpaksa melego  jangkar kapal mereka langsung ke dasar laut karena ketiadaan mooring buoy, tempat untuk menambatkan tali kapal. Membuang jangkar kapal langsung ke dasar laut, tentu saja dapat merusak terumbu karang yang merupakan rumah tinggal bagi ikan-ikan.

BACA JUGA:  Pulau Flores, Penyumbang Burung Endemik Terbanyak

Boleh dibayangkan, betapa kerusakan yang ditimbulkan oleh jangkar-jangkar kapal yang dibuang begitu saja ke dasar laut. Jangkar-jangkar dari besi baja itu hampir dipastikan akan merusak terumbu karang dan karang laut akan rusak atau terbongkar  jika jangkar ditarik ke atas kapal.

Kondisi pelabuhan tanpa mooring buoy, bukan hanya terdapat di Pulau Kelor, tetapi terdapat juga di banyak pelabuhan baik di dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) maupun di luar TNK. Sebut misal, di Pulau Bidadari, Pulau Kanawa dan Pulau Menjerite. Di beberapa destinasi wisata favorit ini, tak memiliki mooring buoy.

Sementara itu, di beberapa pulau atau destinasi wisata lainnya, meskipun ada mooring buoy namun jumlahnya sangat kurang atau sudah rusak akibat diterjang badai dan gelombang laut. Keadaan ini tentu saja mencemaskan dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke sana.*

BACA JUGA:  Pengembangan Pariwisata Flores, Mengurangi Ketimpangan di Nusa Tenggara

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button