BUDAYA

Spiderweb Ricefield, Destinasi Wisata yang Menyatukan Dunia

Editor Kornelis Rahalaka

Kampung Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata  terkenal di daerah ini. Di tempat ini terdapat agrowisata atau wisata persawahan yang berbentuk jaring laba-laba (spiderweb ricefield) atau masyarakat setempat menyebutnya, Sawah Lingko Lodok.

Selain sawah lingko lodok, di kampung ini juga terdapat gendang atau rumah adat khas masyarakat Manggarai. Sawah lingko lodok dan gendang adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sosial orang Manggarai atau yang lebih dikenal dengan filosofi  gendang one, lingko pe’ang.

Lingko merupakan pusat budaya orang Manggarai. Ia menjadi simbol yang menggambarkan persatuan dan kesatuan, eksistensi dan jati diri masyarakat Manggarai. Filosofi gendang one lingko pe’ang terus diceritrakan dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

BACA JUGA:  Merajut Golo Mori Menuju Desa Berdaya, Tangguh dan Berkelanjutan

Gendang one lingko pe’ang, merupakan aset besar dan tak ternilai yang dimiliki oleh masyarakat adat Manggarai. Tradisi keseharian ini menjadi konten lokal yang harus dirawat dan dilestarikan dengan baik. Sebab, para wisatawan yang datang ke daerah ini, mereka tidak hanya melihat pemandangan alam yang pesona, tetapi mereka juga ingin melihat, mengenal, dan mempelajari budaya Manggarai.

Destinasi sawah lingko lodok telah menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat dunia. Untuk itu, spot agrowisata yang unik dan indah ini perlu terus dipertahankan dan dikembangkan selaras dengan alam dan sesuai dengan segala potensi yang terdapat di wilayah ini. Selain itu, lingko lodok dan gendang Meler menjadi bagian dari proses belajar bersama dan saling bergandengan tangan mengembangkan pariwisata dan ekonomi yang berkelanjutan.

Sawah lingko lodok simbol pemersatu masyarakat adat.(foto:Kornelis Rahalaka/Floresgenuine)

Dalam pengembangan pariwisata sangat dibutuhkan partisipasi masyarakat lokal. Masyarakat adalah kunci sentral pengembangan pariwisata. Pengembangan pariwisata berbasis kebudayaan lokal yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, nilai ekologis, nilai agama keadilan, kejujuran dan nilai ilmu pengetahuan yang bercorak ramah lingkungan dan manusiawi.

Karena pariwisata sejatinya merupakan medium perjumpaan antar manusia tanpa sekat-sekat atau batas-batas, baik kelas sosial, suku, agama ras dan antar golongan. Setiap destinasi wisata harus menjadi rumah bhineka tunggal ika. Satu dalam banyak, banyak dalam satu.

BACA JUGA:  Kisah Mery Lamanele, Pegiat Tenun Ikat Khas Lembata

Filosofi ini tentu sejalan dengan visi Gereja Katolik Keuskupan Ruteng yang mengedepankan universalitas kemanusiaan dan dalam pengembangan pariwisata yang bersifat holistik. Sebab, jika dunia atau alam semesta ini diciptakan oleh satu Tuhan, maka pariwisata adalah salah satu instrumen nyata yang mempersatukan umat manusia yang ada di dunia ini.*

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button