BUMI MANUSIA

Kampung Runa : Kaya Potensi, Miskin Perhatian

Oleh : Servasius S Ketua [Labuan Bajo]

Kampung Runa, Desa Suka Kiong, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu anak kampung Desa Suka Kiong,  yang sejak dulu, dikenal sebagai kampung tua di bawah kekuasaan pemerintahan Hamente Kolang.

Meskipun terletak di wilayah yang boleh disebut, cukup terpencil dan terisolir, namun, Kampung Runa ternyata menyimpan beragam kisah sejarah masa lalu yang unik dan menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Kampung mungil nan indah dengan panorama alam yang memukau ini terdapat pula sejumlah enam situs warisan leluhur yang hingga kini masih terpelihara dengan baik. Jejak-jejak sejarah masa lalu itu masih dapat kita nikmati jika berkunjung ke kampung ini.

Berkat keunikan dan jejak-jejak peninggalan sejarah masa lalu tersebut, pemerintah Manggarai Barat pun ‘membabtis’ kampung kecil dalam bilangan Desa Suka Kiong ini sebagai salah satu desa wisata yang patut dikunjungi dan dijaga kelestariannya.

BACA JUGA:  Peringatan Hari Bumi 2024, Manusia Bertanggung Jawab Selamatkan Bumi
Jejak sejarah situs batu peninggalan leluhur di Kampung Runa.(Foto : Servasius S Ketua)

Selain beberapa situs sejarah yang masih eksis di kampung ini, Kampung Runa juga kaya akan potensi sumber daya alam yang belum dikelolah secara maksimal. Aneka tanaman pertanian, perkebunan tumbuh dengan baik di kawasan ini. Cengkih, kopi, vanili dan buah-buahan adalah beberapa komoditi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Apalagi mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani.

Sayang, kekayaan sumber daya alam yang mereka miliki belum dikelola secara maksimal guna meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Kerinduan masyarakat Kampung Runa untuk menikmati kesejahtraan, nampaknya ibarat masih jauh api dari panggang. Belum sepenuhnya dirasakan dampaknya.

Sulitnya akses jalan raya masih merupakan masalah utama yang dihadapi oleh warga setempat. Sudah bertahun-tahun warga menantikan perubahan atau setidaknya mendapat sentuhan pembangunan dari pemerintah, namun harapan itu masih tinggal harapan. Akses jalan untuk menghubungkan kampung-kampung di sekitarnya masih sulit diwujudkan.

BACA JUGA:  Desa Wisata Liang Ndara di Tengah Arus Perubahan Zaman

Jalur jalan dari Kampung Runa menuju Kampung Suka, demikian pula akses jalan menuju ke beberapa pusat pelayanan publik seperti ke sekolah atau ke pusat kesehatan masih dalam kondisi memprihatinkan.

Jalan yang merupakan kebutuhan vital masyarakat belum kunjung dibangun atau diperbaiki. Padahal, wilayah ini merupakan kantong utama penghasil komoditi perdagangan dan penyedia pangan. Sulitnya akses jalan berakibat pada sulitnay warga masyarakat memasarkan komoditi mereka ke pasar.

Warga menggotong seorang pasien ke rumah sakit karena jalan rusak.(Foto:ist)

Buruknya jalan dan keterisolasian wilayah sangat menyulitkan masyarakat mendapatkan pelayanan yang maksimal. Kisah pilu tentang ibu-ibu hamil yang terpaksa digotong ke rumah sakit guna mendapatkan pelayanan kesehatan, bukan ceritra isapan jempol belaka. Sebabnya, hanya karena kendaraan tidak bisa masuk ke kampung karena buruknya jalan, terutama saat musim hujan tiba.

BACA JUGA:  Pesona Inkulturasi Dibalik Upacara Adat Penti Weki Peso Beo

Tentu saja warga Kampung Runa sangat membutuhkan jalan.Jalan menjadi kebutuhan dasar masyarakat setempat. Beberapa ruas jalan di kawasan itu memang sudah mulai dibangun, namun sebagian besar ruas jalan baru pada tahap dilapen atau ditelford.

Kondisi demikian, tentu saja menghambat mobilisasi masyarakat di wilayah itu. Kalau sudah begitu, masyarakat biasanya hanya bisa berpasrah diri dan berharap pada kemurahan alam.*

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button