PARIWISATA

Konsep Harmoni dengan Alam, Pendekatan Pengembangan Destinasi Parapuar

FLORESGENUINE. com– Sebagai destinasi baru yang akan dikembangkan di Kota Labuan Bajo,  pembangunan kawasan Parapuar membutuhkan kehatian-hatian. Hal ini perlu dilakukan agar pengembangan destinasi yang baru ini, tidak merubah landscape kawasan tersebut yang dapat mempengaruhi perubahan lingkungan dan sosial budaya masyarakat lokal.

Konsep Harmoni dengan Alam inilah yang menjadi pendekatan pembangunan destinasi yang meliputi atraksi, amenitas dan aksesibilitas, masyarakat, citra dan pengelolaan yang akan dikembangkan di Parapuar.

Plt. Dirut BPOLBF, Frans Teguh menjelaskan, pengembangan destinasi di Parapuar akan didasari pada asas keseimbangan ekologi lingkungan, budaya dan sosial masyarakat. Banyak aktivitas yang akan dikembangkan di kawasan tersebut baik atraksi alam, atraksi sosial, atraksi budaya dan atraksi buatan.

BACA JUGA:  Golkar Manggarai Barat Buat Pra Survei Terhadap Figur Bakal Calon Kepala Daerah, Muncul 9 Nama

“ Pengembangan destinasi baru ini akan mengedepankan asas keseimbangan ekologi lingkungan, budaya, dan sosial masyarakat. Selain itu, ketersediaan amenitas dengan entitas lokal yang menyatu dengan alam juga diharapkan dapat menambah daya tarik wisata karena menjadi sesuatu yang unik,” ujarnya.

Parapuar akan dikembangkan menjadi destinasi wisata alternatif. (Foto : Kornelis Rahalaka/Floresgenuine)

Sementara itu, terkait aksesibilitas, pihaknya akan merancang keterpaduan sistem transportasi di dalam kawasan guna memberi kenyamanan bagi wisatawan. Pengelola juga tengah membuat rencana jangka panjang yang akan dikerjakan selesai pembangunan dikerjakan dengan menerapkan visitor management system yakni menghitung daya dukung lingkungan (carrying capacity) mulai dari kapasitas jumlah pengunjung hingga batas maksimal dari beban yang dapat ditanggung lingkungan akibat aktivitas wisata di dalam kawasan. Hal dilakukan guna memastikan terjaminnya keberlangsungan destinasi Parapuar.

Daya dukung di destinasi Parapuar nantinya menggunakan beberapa pendekatan pengelolaan yang mana, tingkat kunjungan, kegiatan dan aktivitas wisatawan di lokasi wisata akan dikelola dengan batas-batas yang disesuaikan dengan beban di masing-masing zona.

Hal ini dilakukan guna mempertahankan intensitas pemanfaatan ruang sekitar kawasan agar tetap rendah. Penggunaan material yang ramah lingkungan juga menjadi suatu pendekataan yang akan diterapkan di kawasan ini. [kis/fg]

BACA JUGA:  Watu Rombang, Batu Legenda Berdaya Mistis-Magis

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button