BUMI MANUSIA

Mempertahankan Tanaman yang Hampir Punah

FLORESGENUINE.com- Atas nama intensifikasi pertanian untuk meningkatkan produksi, beberapa varietas lokal diganti varietas baru. Padahal, varietas lokal lebih tahan hama-penyakit dan lebih cocok dengan kondisi setempat.

Pemakaian varietas lokal juga menjadi strategi jitu menghemat biaya produksi, karena petani tak perlu membeli bibit. Memakai varietas lokal juga berarti menjaga sumberdaya hayati. Menyadari arti penting varietas lokal, hampir semua petani di Kedang, Kabupaten Lembata berusaha mempertahankan keadaannya.

Secara umum, mayoritas petani Kedang merasa kurang lengkap jika dalam satu hamparan, tidak ditanami padi merah dan hitam. Namun, padi merah dan hitam tidak dikembangkan dalam jumlah besar karena tujuannya lebih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau keperluan pelestarian.

BACA JUGA:  Kilas Balik Sengketa Tanah Pantai Pede, Siapa yang Punya?

Sistem pertanian yang mengombinasikan varietas lokal dengan varietas baru membantu petani menjaga kekayaan hayati daerahnya. Petani juga mampu mempertahankan system pertanian tradisional mereka.

Jagung misalnya adalah makanan pokok masyarakat Kedang, selain ubi-ubian seperti ubi jalar, singkong dan talas serta kacang-kacangan. Selain jagung dan ubi-ubian, petani Kedang juga membudidayakan kacang-kacangan. Mereka menanam jagung, ubi dan kacang-kacangan pada waktu yang relative sama saat memasuki musim hujan. Maklum, musim hujan di wilayah Kedang tergolong singkat yakni hanya berkisar antara 3-4 bulan dengan curah hujan tergolong rendah.

Jagung merupakan makanan pokok masyarakat Kedang. (foto : Kornelis Rahalaka/Floresgenuine)

Petani Kedang telah membuktikan bahwa benih lokal tak kalah unggul dibanding varietas hibrida. Bahkan lebih banyak keuntungan yang diperoleh, selain keuntungan ekonomi semata. Misalnya, benih lokal lebih selaras dengan lingkungan dan budaya setempat. Selain itu, petani punya pilihan untuk berdaulat atas pertaniannya dan lepas dari jerat kemiskinan.

Setelah panen, sebagian padi, jagung dan ubia-ubian digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sebagian lainnya disimpan sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya. Demikian pula dengan ubi-ubian dan kacang-kacangan. Bahkan sebagian ubi dan kacang-kacangan dibiarkan tersimpan di dalam tanah. Bila musim hujan tiba, ubi-ubian dan kacang-kacangan itu akan bertunas kembali dan siap untuk dipanen lagi.

BACA JUGA:  Proyek Geothermal Wae Sano, Meretas Isolasi Wilayah Sano Nggoang

Penyimpanan padi, jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan dengan sistem lumbung pangan sangat baik selain untuk menjamin ketersediaan dan ketahanan pangan, juga untuk melestarikan dan mengantisipasi resiko kelaparan akibat perubahan iklim global, gagal tanam atau gagal panen.

Kearifan-kearifan masyarakat Kedang dalam mengembangkan pertanian tradisional mereka patut diapresiasi dan dilestarikan di tengah gempuran berbagai input dari luar termasuk varietas baru yang belum teruji ketahanannya terhadap hama penyakit serta dampak dari perubahan iklim global yang kian tak menentu. [kornelis rahalaka]

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button